Dari Sudut Alun-Alun: Tentang Sampah dan Kesadaran
Anugrah AN
3/20/20262 min read


Sampah yang kita biarkan di sudut alun-alun Lumajang (sumber : Dokumentasi semangat dolan )
Ada cerita yang berbeda dari Alun-Alun Lumajang di hari Minggu, 8 Februari 2026. Bukan cerita tentang ramainya car free day, bukan pula tentang semangat warga berolahraga di pagi hari. Tapi cerita yang muncul setelah semuanya usai, sekitar pukul 12.58 WIB.
Saya datang di waktu yang mungkin jarang diperhatikan orang. Saat keramaian mulai pulang, dan alun-alun kembali ke “wajah aslinya”. Dan di situlah cerita itu dimulai.
Langkah demi langkah membawa saya menyusuri area yang tadi pagi dipenuhi aktivitas. Namun yang saya lihat justru membuat hati terasa sedikit berat. Sampah di mana-mana. Seolah setiap sudut menyimpan sisa-sisa aktivitas yang tak sempat “dirapikan”.
Padahal, fasilitas sudah tersedia. Tempat sampah ada, bahkan cukup banyak. Artinya, masalahnya bukan pada kurangnya sarana. Tapi pada kebiasaan kita sendiri.
Kadang kita terlalu mudah berkata, “Ah, nanti juga ada yang bersihin.” Kalimat sederhana yang tanpa sadar memindahkan tanggung jawab kita kepada orang lain.
Padahal, jika setiap orang berpikir seperti itu, maka yang terjadi adalah apa yang saya lihat siang itu.
Saya jadi teringat kebiasaan kecil yang sering saya lakukan bersama keluarga. Saat duduk santai di pagi hari, kami sering menemukan sampah yang tertinggal di sekitar kami. Dan entah kenapa, rasanya tidak tega jika dibiarkan. Kami pungut, kami buang. Sederhana, tapi setidaknya itu bentuk kepedulian kecil.
Sementara di sisi lain, para petugas kebersihan datang dengan kesabaran yang luar biasa. Mereka tidak marah, tidak mengeluh di depan kita. Mereka hanya bekerja. Menyapu, mengangkut, membersihkan. Berulang, setiap minggu, setiap hari.
Dan seperti keajaiban kecil yang sering luput kita sadari, sekitar pukul 14.00 WIB, alun-alun kembali bersih. Siap menyambut orang-orang yang datang berikutnya.
Namun pertanyaannya, apakah kita akan terus membiarkan siklus ini terjadi?
Lingkungan yang bersih tidak tercipta dari satu pihak saja. Ia lahir dari kesadaran kolektif. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Kita tidak perlu menjadi “pahlawan lingkungan”. Cukup menjadi manusia yang peduli. Membuang sampah pada tempatnya. Tidak meninggalkan jejak yang merugikan orang lain. Dan jika bisa, melakukan lebih seperti memunguti sampah yang kita lihat.
Karena sejatinya, alun-alun bukan hanya tempat berkumpul. Ia adalah ruang bersama, milik kita semua. Dan cara kita menjaganya, adalah cerminan dari cara kita menghargai kebersamaan itu sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya menikmati, dan mulai merawat.
Agar suatu hari nanti, cerita dari sudut alun-alun bukan lagi tentang sampah yang berserakan melainkan tentang masyarakat yang benar-benar peduli. (AAN)
Adventure
Experience joy through travel, food, and fun.
Explore
Journey
contact : noegi@semangatdolan.com
© 2025. All rights reserved.
Lumajang, east Java, Indonesia
